
(Makassar, 22 Oktober 2021) Peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW atau biasa dikenal dengan perayaan maulid adalah sebuah perayaan umat Islam yang rutin dilaksanakan setiap tahun di Indonesia. Peringatan ini menandai peristiwa sejarah lahirnya seorang nabi terakhir yang diutus oleh Allah Swt. sebagai rahmat untuk sekalian alam. Dalam kalender Hijriyah, Nabi Muhammad lahir pada tanggal 12 Rabiul Awal pada tahun Gajah di kota Mekah. Penanggalan Gregori untuk tahun 2021 ini perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW jatuh pada tanggal 19 Oktober 2021.
Dalam budaya Indonesia, perayaan Maulid ini dirayakan dengan berbagai macam cara, tak terkecuali di wilayah Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Dalam budaya Bugis Makassar, merayakan kelahiran Nabi Muhammad adalah sebuah bentuk kesyukuran dan kegembiraan. Kelahiran Nabi Muhammad adalah simbol keselamatan pada umat manusia dan alam semesta. Selain mengadakan ceramah agama sebagai peringatan Maulid, masyarakat juga biasa merayakannya dengan kebudayaan lokal. Masyarakat Bugis Makassar menyebutnya dengan istilah Maudu. Di masyarakat Bugis Makassar biasanya diadakan perayaan Maudu berupa menyajikan Songkolo dan telur warna-warni yang dihias dan diberi gagang yang ditancapkan pada songkolo tersebut atau pada batang pisang maupun dekorasi maulid lainnya. Songkolo merupakan makanan khas Sulawesi Selatan yang berupa beras yang dimasak dengan minyak dan biasa disajikan dengan hiasan telur dadar ataupun ayam goreng yang disimpan di dalam songkolo tersebut. Songkolo ini biasanya dibuat dengan dua warna, yakni warna putih yang terbuat dari beras biasa, dan songkolo berwarna hitam yang terbuat dari beras hitam. Songkolo juga diberi irisan serai dan butiran merica agar terasa lebih nikmat. Biasanya, Songkolo disimpan dalam wadah seperti ember plastik yang dihias sedemikian rupa, atau disimpan dalam tempat plastik. Songkolo dan telur hias akan dibagikan kepada masyarakat ketika acara hikmah maulid susah selesai.
Meskipun berbeda dalam bentuk perayaannya, pada hakikatnya tradisi maulid tidak hanya sekadar sebagai pengingat sejarah bagi kaum muslim. Tradisi ini juga sebagai pengingat umat muslim akan sosok Rasulullah yang menjadi inspirasi paling sempurna bagi seorang muslim dalam menjalani apa pun dalam realitas kehidupannya.