PERPUSTAKAAN EWAKO

SMP TELKOM MAKASSAR

  • Beranda
  • Informasi
  • Berita
  • Bantuan
  • Pustakawan
  • Area Anggota
  • Pilih Bahasa :
    Bahasa Arab Bahasa Bengal Bahasa Brazil Portugis Bahasa Inggris Bahasa Spanyol Bahasa Jerman Bahasa Indonesia Bahasa Jepang Bahasa Melayu Bahasa Persia Bahasa Rusia Bahasa Thailand Bahasa Turki Bahasa Urdu

Pencarian berdasarkan :

SEMUA Pengarang Subjek ISBN/ISSN Pencarian Spesifik

Pencarian terakhir:

{{tmpObj[k].text}}

Sejarah Aksara Lontarak


Bahasa dan sastra daerah, termasuk bahasa Makassar merupakan anugerah Tuhan Yang Maha Esa yang harus dipelihara, dibina, dan dilestarikan oleh masyarakat penuturnya. Suku Makassar, selain memiliki bahasa daerah yang disebut basa Mangkasarak ‘bahasa Makassar’ juga memiliki aksara tersendiri yang disebut aksara lontarak. Hal ini membuktikan bahwa suku Makassar adalah suku yang berbudaya karena dapat menggunakan aksara tersendiri untuk melambangkan bunyi-bunyi bahasa dalam bahasa daerahnya.

Sebagai suku yang berbudaya, suku Makassar seharusnya merasa bersyukur dan bangga karena memiliki warisan budaya yang bernilai tinggi. Akasara lontarak salah satu kearifan lokal masyarakat Sulawesi Selatan, namun kenyataan saat ini menunjukkan bahwa tidak semua orang yang dapat berbahasa Makassar sekaligus dapat membaca dan menulis aksara lontarak. Oleh sebab itu, aksara ini harus dipelajari, dibina, dan diwariskan kepada generasi muda sebagai pewaris kelestarian budaya bangsa. Salah satu upaya yang paling tepat adalah melalui pembelajaran di sekolah.

            Pohon lontar dalam bahasa Makassar disebut pokok talak adalah salah satu tumbuhan yang banyak dijumpai di Sulawesi Selatan. Seluruh bagian dari tumbuhan ini mempunyai manfaat dan bernilai seni apabila dikelola dengan baik. Salah satu bagian dari pohon lontar adalah daun yang dalam bahasa Makassar disebut lekok talak. Tahuka anda mengapa aksara di Sulawesi Selatan dinamai aksara lontarak?

            Ditinjau dari segi etimologi kata lontarak terdiri dari dua kata, yaitu: raung yang berarti ‘daun’ dan talak yang berarti ‘lontar’. Kata raung talak mengalami proses metatesis sehingga menjadi kata lontarak. Metatesis adalah perubahan letak huruf, bunyi, atau suku kata dalam kat, seperti perubahan letak [r] dan [l] pada kata raung talak menjadi lontarak.

            Aksara lontarak merupakan salah satu jenis aksara yang dipergunakan sebagai alat komunikasi tertulis di kalangan masyarakat Bugis-Makassar, baik dalam penulisan buku teks untuk mata pelajaran di sekolah maupun dalam sistem penulisan surat-menyurat. Mengapa aksara ini disebut lontarak? Berdasarkan sejarah, di Sulawesi Selatan pohon lontar tumbuh dengan subur sehingga daun pohon ini mudah diperoleh. Oleh karena itu, sebelum populernya material berupa kertas, aksara lontarak dituliskan di atas lembaran-lembaran daun lontar (sebagai pengganti kertas) untuk berbagai keperluan, seperti: catatan harian, surat-menyurat, karya sastra, dan dokumen-dokumen penting lainnya yang harus diarsipkan. Itulah sebabnya sehingga aksara yang ditulis pada raung talak (lekok talak) disebut lontarak.

            Matulada (1971) menyatakan bahwa aksara lontarak pertama kali diperkenalkan oleh syahbandar “sabannarak” Kerajaan Gowa yang bernama Daeng Pamatte yaitu pada masa kerajaan Gowa diperintah oleh Raja Gowa IX Daeng Matanre, Karaeng Mannguntungi yang bergelar Karaeng Tumapakrisik Kallonna. Pada masa pemerintahan Raja Gowa IX Daeng Pamatte memangku dua jabatan, yaitu Sabannarak “Syahbandar” dan merangkap Tumailalang (Menteri urusan istana dan dalam negeri). Pada waktu itu pulalah, Karaeng Tumaparisik Kallona memberi titah kepada Daeng Pamatte untuk membuat aksara yang dapat dipakai dalam komunikasi tuli-menulis.

            Pada tahun 1538 Daeng Pamatte berhasil mengarang aksara lontarak yang terdiri atas 18 huruf dan juga tulisan huruf Makassar tua. Akhirnya, aksara lontarak ini dipermoderen dan bentuknya lebih disederhanakan sehingga jumlah huruf menjadi 19 akibat masuknya pengaruh bahasa Arab.

            Aksara lontarak berbentuk segi empat (belah ketupat). Hal ini didasari pemahaman filosofis kultural masyarakat Makassar bahwa keberadaan manusia berasal dari empat unsur, yaitu: tanah ‘butta’, api ‘pepek’, air ‘jeknek’, dan udara ‘anging’. Aksara lontarak termasuk suku kata silabik karena satu huruf melambangkan satu suku kata. Oleh karena itu, pembaca harus memahami konteks agar dapat membaca aksara dengan benar.

Sumber: Buku Cetak Pappilajarang Basa Siagang Sasetera Mangkasarak SMP/MTS Kelas VII Oleh Dr. Kembong Daeng, M.Hum.

PERPUSTAKAAN EWAKO
  • Informasi
  • Layanan
  • Pustakawan
  • Area Anggota

Tentang Kami

As a complete Library Management System, SLiMS (Senayan Library Management System) has many features that will help libraries and librarians to do their job easily and quickly. Follow this link to show some features provided by SLiMS.

Cari

masukkan satu atau lebih kata kunci dari judul, pengarang, atau subjek

Donasi untuk SLiMS Kontribusi untuk SLiMS?

© 2026 — Senayan Developer Community

Ditenagai oleh SLiMS
Pilih subjek yang menarik bagi Anda
  • Karya Umum
  • Filsafat
  • Agama
  • Ilmu-ilmu Sosial
  • Bahasa
  • Ilmu-ilmu Murni
  • Ilmu-ilmu Terapan
  • Kesenian, Hiburan, dan Olahraga
  • Kesusastraan
  • Geografi dan Sejarah
Icons made by Freepik from www.flaticon.com
Pencarian Spesifik
Kemana ingin Anda bagikan?